Anak Pengguna Narkotika tidak dapat Langsung Dipidanakan

Kurangnya kasih sayang dan pengawasan dari sekolah dan orang tua dapat menjadikan anak terjebak dalam pergaulan bebas. Sejak digalakkannya perang melawan narkoba oleh pemerintah, maka sejak itu pula narkotika menjadi musuh utama yang menjadi kekhawatiran para orang tua terhadap anaknya.

Sementara, Komisi Pelindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam website resminya www.kpai.go.id mengungkapkan,  pertengahan tahun 2016 tercatat ada 14.000 anak pengguna narkoba. Lantas bagaimana penanganan hukum terhadap anak apabila terlibat dalam suatu tindak pidana seperti penyalahgunaan narkoba?

Ketua KPA Kabupaten Asahan Alex Margolang mengatakan dalam penanganan hukum terhadap anak pengguna narkoba, masih ada proses hukum untuk membuktikan apakah anak tersebut memang merupakan pelaku penyalahgunaan atau korban penyalahgunaan. Jika dapat dibuktikan atau terbukti bahwa ia sebagai korban penyalahgunaan narkoba, maka ia wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. 

"Dicari tahu dulu apakah anak itu terlibat langsung dalam penyalahgunaan atau hanya sebatas korban?", kata Alex saat ditemui di ruang kerjanya.

Lebih lanjut Alex Margolang menambahkan anak yang terlibat tindak pidana tidak dapat langsung dijerat hukum pidana melainkan ada upaya Diversi yang mengacu pada Undang-Undang Perlindungan Anak. Dimana Diversi menjadi prioritas dalam penanganan hukum bagi anak.

"Untuk anak, diupayakan Diversi yaitu pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Sebisa mungkin penegak hukum mengutamakan Diversi kepada anak yang terlibat tindak pidana", tutup Alex. (RS)

Tidak ada komentar untuk "Anak Pengguna Narkotika tidak dapat Langsung Dipidanakan"


KOMENTARI VIA FACEBOOK:

Ikuti Update Via Email